Sabtu, 27 April 2013

TUGAS ASPEK PSIKOSOSIAL KESEHATAN REPRODUKSI


TUGAS MATA KULIAH “ASPEK PSIKOSOSIAL KESEHATAN REPRODUKSI”

1.    Dampak Psikososial yang dirasakan pasangan suami istri dengan kasus infertilitas  adalah :

Kebanyakan orang, lelaki ataupun perempuan merasa yakin bahwa dirinya mampu menghasilkan keturunan. Padahal dalam kenyataan, sekitar 1 di antara 10 pasangan sulit melakukannya. Memang sebagian lelaki maupun perempuan tidak berniat memiliki anak, atau tak pernah menginginkan keturunan. Namun, bagi pasangan-pasangan yang mendambakan anak, ketidaksuburan menjadi pil pahit yang membawa kekecewaan, kemarahan dan keputusasaan.
Bila suatu pasangan tak kunjung memiliki keturunan, biasanya pihak perempuanlah yang disalahkan. Pertengkaran sengit, bahkan perceraian, bisa jadi diakibatkan masalah infertilitas ini. Padahal, dari sekitar sepuluh kasus, yang infertil adalah pihak lelaki. Tapi, sering kali laki-laki tidak mau percaya pada kenyataan bahwa dirinya infertil. Bahkan ia juga tidak percaya bahwa problema itu mungkin saja berakar pada kedua belah pihak. Bila diajukan kemungkinan itu, ia mengamuk atau dengan marah menolak menjalani pemeriksaan. Sementara bila hasil pemeriksaan istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda infertil, ia tetap tidak mau percaya.
Yang paling besar perannya dalam mencetuskan tanggapan lelaki yang seperti itu adalah penilaian masyarakat di tempat ia berada. Bila anak dianggap sebagai bukti kejantanan bapaknya, bila lelaki diharapkan banyak keturunan – terutama anak laki-laki, maka infertilitas bukan saja mengecewakan secara pribadi pada pasangan suami istri, tetapi juga memalukan secara sosial.
Infertilitas bisa menyebabkan perempuan sangat menderita atau tidak bahagia, sedih berkepanjangan, gugup dan tidak tenang, merasa terkucil dan kesepian, frustasi atau putus asa, atau marah tanpa juntrungan, serta merasa takut kalau nati suaminya akan menikah lagi. Perasaan semacam itu wajar, namun tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Bagi perempuan, hanya kehadiran seorang anaklah yang dapat memberikan segala kebahagiaan. Dianggap sebagai penguat hubungan pernikahan.
Pada kasus infertilitas ini, biasanya suami lebih mampu menjaga ekspresi kesedihan mereka. Mereka terlihat menjadi pribadi yang kuat dalam keluarga dan karenanya mereka tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Mereka datang untuk mendukung dan menghibur pasangan wanita mereka meskipun ia sebetulnya juga merasa hancur. Namun, masalah biasanya akan muncul ketika pria tersebut mengetahui bahwa dirinya memiliki masalah infertilitas. Sebagai pria, mereka merasa terluka dan cenderung berubah jadi liar. Hal ini terkadang mempengaruhi hubungan suami-istri dalam keluarga.
Infertilitas memiliki dampak psikologis yang besar pada hubungan pasangan suami-istri.  Ketika mereka tidak bisa menyalahkan satu sama lain, pertengkaran akan pecah pada hal-hal konyol dan segalanya menjadi lebih buruk. Tapi hal yang berlawanan juga bisa terjadi. Permasalahan ini mungkin akan membuat pasangan menjadi lebih dekat dan memperkuat hubungan mereka karena sama-sama merasakan kesedihan.

2.    Cara mencegah dan mengatasi masalah psikososial yang dihadapi anak adopsi  adalah :

Seorang anak adopsi biasanya tidak tahu kalau ia adalah anak adopsi sampai usianya masuk tahap remaja. Hal ini karena saat ia masih kecil, ia tidak menyadarinya. Namun saat ia remaja, dan mulai mencari jati diri, ia akan mencari tahu apakah paras dan bakat yang dimilikinya diwarisinya dari ibu atau ayahnya. Disaat inilah, ia akan mulai menyadari bahwa ia hanya punya sedikit kemiripan atau bahkan tidak mirip sama sekali dengan orangtuanya. Setelah ia mulai merasa ada sesuatu yang janggal, ia akan mulai mencari tahu dengan cara ‘bergerilya’ terlebih dahulu, dengan cara memeriksa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan dirinya (misal: surat nikah orangtua, surat keterangan lahir, akte kelahiran, kartu keluarga, dan lain-lain). Setelah ia mendapati bahwa memang ada yang ‘aneh’, ia akan mencari tahu dengan bertanya langsung pada keluarga terdekatnya, tetangganya, saudaranya dan bahkan dengan orangtuanya.
Kebanyakan anak adopsi tahu bahwa ia bukanlah anak kandung orangtuanya, justru dari keluarganya sendiri, yaitu saudara (anak kandung dari orangtua angkatnya) atau bahkan orangtua angkatnya itu sendiri (karena merasa sudah tepat waktunya memberi tahu kebenaran). Saat si anak tahu, akan timbul berbagai reaksi, seperti :
a.       Ia merasa sebagai anak yang dibuang oleh orangtua kandungnya. Ia akan merassa sedih dan marah dengan keadaan. Perasaan tersebut berpotensi membuatnya merasa tidak berharga dan berpandangan negatif terhadap dirinya. Jika berlanjut, ia akan memberontak dan berusaha melarikan diri dari keluarga.
b.      Cenderung membandingkan diri dengan anak lain dan berupaya terlalu keras untuk membuktikan bahwa ia layak dikasihi dan menjadi bagian dari keluarga yang mengadopsinya. Ia akan berusaha keras mendapatkan penerimaan. Perilaku ini tidak sehat dan berpotensi menimbulkan masalah karena dengan mudah ia dapat kehilangan jati dirinya dan terjebak dalam perilaku menyenangkan orang secara membabi buta. Dan bila, ia tidak bisa menyenangkan orang lain, ia akan merasa kecewa dan tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga angkatnya
c.       Merasa hidup sendiri atau sebatang kara. Ia dapat melakukan hal-hal yang salah karena kehilangan arah hidup. Ia beranggapan tidak ada seorang pun yang sungguh peduli, jadi mengapakah ia harus mempedulikan perasaan orang lain.
Cara mengatasi masalah-masalah yang timbul tersebut adalah :
a.       Bersifat terbuka dengan anak adopsi, meyakinkan ia bahwa posisinya di hati orangtuanya sama dengan anak-anak kandungnya.
b.      Menjelaskan padanya bahwa dia diadopsi dengan dasar perasaan kasih sayang, dan bersifat selamanya, bukan hanya sementara.
c.       Menjelaskan latar belakang mengapa ia diadopsi secara jelas dan tidak setengah-setengah.
d.      Selalu memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak tersebut sama halnya dengan anak kandungnya
e.       Tidak membiarkan anak tersebut merasa terbuang dan sebatang kara

Cara mencegah masalah tersebut :
a.    Orangtua mesti memperlakukan anak adopsi seperti anak kandung karena hal inilah yang akan berbicara kepadanya tatkala ia tengah mengalami pergolakan.
b.    Orangtua harus kuat bertahan dan tidak terjebak ke dalam upaya anak menguji batas kesabaran.
c.    Orangtua tetap mesti mendisiplinkannya dan tidak boleh memperlakukannya secara khusus. Kasih dan disiplin harus diberikan secara seimbang.
d.    Orangtua harus bisa melibatkan peran serta anak-anak kandungnya atau anak adopsi lain (misal anak adopsinya lebih dari satu) untuk memberi pengertian kepada dirinya bahwa adopsi bukanlah hal yang buruk

3.        Aspek psikososial pada wanita hamil diluar nikah serta status anaknya adalah :
Hamil diluar nikah bagi masyarakat terutama di dunia timur dimana keperawanan sangat dijunjung tinggi, merupakan sesuatu yang tabu. Tanpa tahu latar belakang kejadiannya, ia dianggap sebagai wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya dan keluarganya. Padahal, kejadian hamil di luar nikah dapat disebabkan oleh banyak hal. Ada yang terjadi karena kasus perkosaan, kasus ‘tidak bertanggungjawabnya’ pasangan, ketidaksetujuan pihak keluarga besar baik dari pihak perempuan atau laki-laki dikarenakan adanya perbedaan (misal : agama, budaya, adat istiadat, dan lain-lain). Malah yang akhir-akhir ini, seiring dengan berkembangnya dunia kedokteran, ada juga kasus dimana seorang perempuan menyediakan rahimnya untuk ditanam benih pasangan lain yang infertilitas (bayi tabung).
Hamil diluar nikah  yang dilatar belakangi hubungan suka sama suka dan tidak menikah karena tidak bertanggungjawabnya laki-laki, yang dikenal dengan istilah Pregnancy because An Accident ini lebih banyak berdampak secara psikologis bagi wanita. Ia akan merasa sangat malu, tidak percaya diri, dan tidak mau bersosialisasi. Seorang wanita yang hamil diluar nikah jelas tidak dianggap sebagai wanita yang baik. Kehamilan ini dianggap memperburuk nama baik keluarganya di masyarakat. Terkadang ia diusir dari keluarganya. Dampak paling berbahaya yang bisa menimpa si wanita adalah masalah kejiwaan yang sangat kronis dimana ia merasa dirinya sudah tidak dihargai oleh masyarakat di sekitarnya. Karena itu, perlu pengawasan yang ketat terhadap wanita yang hamil diluar nikah. Tindakan yang bisa dilakukan oleh wanita hamil diluar nikah terutama jika kehamilannya belum tercium oleh masyarakat dan keluarganya adalah aborsi. Ia beranggapan bahwa daripada ia dan keluarga besarnya menanggung malu karena aib akibat perbuatan sendiri, lebih baik segera menggugurkan kandungannya meskipun dia tahu itu adalah dosa. Hal tersebut bahkan terkadang muncul dari anjuran pasangan, teman atau keluarganya.
Sedangkan pada kasus hamil di luar nikah yang disebabkan karena perkosaan, si wanita cenderung akan lebih kuat secara mental, karena adanya dukungan dari teman, keluarga dan masyarakat sekitar.
Pada kasus hamil di luar nikah dikarenakan tidak adanya restu dari orang tua, si wanita pun akan lebih kuat karena ada pasangannya yang mau bertanggungjawab. Masalah tersebut biasanya dipecahkan dengan kawin lari atau meminta bantuan keluarga ‘tetua’ untuk membantu mengatasinya.
Pada kasus wanita hamil karena membantu program bayi tabung, biasanya tidak jadi masalah bagi individu yang menjalaninya, karena biasanya sudah melaui proses pemikiran panjang mengenai risiko dan sudah adanya kesepakatan antara ia, pasutri yang membutuhkan jasanya dan dokter yang menangani kasusnya. Jadi, ada ‘inform consent’ yang bisa menjadi bukti mengenai kehamilannya. Justru, masalah yang timbul adalah dari pihak keluarga, masyarakat dan ibu bilogis si janin yang dikandungnya. Ia akan menerima tatapan aneh dari masyarakat, dan perasaan negatif berupa kecemburuan dari si ibu biologis.
Status anak menurut sebagian ulama, jika wanita ini menikah dengan ayah biologisnya, maka :
a.       jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah--berarti usia kandungan sekitar 3 bulan saat menikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan pada ayahnya tanpa harus ada ikrar tersendiri. Hukum pernikahannya pun sah dan tidak perlu diulang. Dan status anak yang dikandung sebelum menikah juga sah menjadi anak kandung baik secara biologis dan syariah.
b.      Jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan--berarti usia kandungan lebih dari 3 bulan saat menikah, maka ayahnya dipandang perlu untuk melakukan ikrar, yaitu menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya.
Sedangkan bila si wanita ini menikah dengan lelaki yang bukan ayah biologisnya maka status anak yang dilahirkan tetap sebagai anak zina. Dan karena itu dinasabkan pada ibunya, bukan pada pria yang menikahi ibunya karena faktanya ia bukan ayah biologisnya. Apabila anak tadi terlahir perempuan, maka yang menjadi walinya adalah wali hakim atau pejabat KUA (Kantor Urusan Agama). 
Bila pada kasus perkosaan yang dilakukan lebih dari satu orang, maka status anaknya harus diperkuat melalui proses peradilan, dimana akan dilakukan tes DNA bagi semua pelaku, agar didapatkan keterangan mengenai siapa ayah biologisnya. 
Bila anak lahir, tapi si wanita itu tidak dinikahi siapapun, maka anak dinasabkan pada ibunya.

4.    Apakah penyebab dari terjadinya abortus dan maternity blues ? (Kaitkan dengan aspek psikososialnya)
Yang dimaksud dengan aborsi (pengguguran kandungan) adalah penghentian kehamilan dengan sengaja karena suatu alasan. Ini jelas berbeda dengan keguguran, yang artinya kehamilan berhenti tanpa diniatkan, atau bukan lantaran keputusan siapapun. Keguguran lebih merupakan peristiwa alamiah, sedangkan aborsi atau ‘pengguguran’ dilakukan atas kehendak manusia.
Tiap keputusan melakukan aborsi diambil dengan susah payah dan sangat berat terasa bagi perempuan yang bersangkutan. Hanya dengan alasan-alasan yang sangat kuat saja ia mampu membulatkan niat untuk melakukan aborsi. Perempuan aborsi disebabkan berbagai keadaan, seperti :
a.       Sudah punya cukup banyak anak dan tak sanggup mengurus anak baru lagi
b.      Kehamilan itu mengancam kesehatan atau nyawanya
c.       Tidak punya pasangan yang mau bertanggung jawab atas pemeliharaan dirinya dan calon anaknya
d.      Masih ingin meneruskan sekolah
e.       Takut kehilangan pekerjaan karen pekerjaannya tidak mengizinkan ia bekerja dalam keadaan hamil
f.       Tak ingin atau belum ingin punya anak
g.      Hamil lantaran paksaan atau perkosaan
h.      Ada orang yang memaksanya melakukan aborsi
i.        Berdasarkan pemeriksaan janin, kelak bayi itu akan lahir dengan cacat bawaan (kelainan kongenital) yang parah atau tidak tersembuhkan.
Maternity blues adalah keadaan yang dialami oleh sebagian perempuan setalah melahirkan, dimana si ibu mengalami depresi dan perasaan tidak mampu memelihara anaknya, sehingga ia akan mengalami kesulitan dalam merawat bayinya. Ia akan tampak tidak peduli dengan anaknya, bahkan untuk kasus yang ekstrim, si ibu dapat membunuh anaknya sendiri. Masalah ini kebanyakan timbul pada ibu-ibu yang tidak bersuami, sangat miskin, sangat muda, atau menyandang keterbelakangan mental. Etiologi atau penyebab pasti terjadinya maternity blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya maternity blues, antara lain:
a.       Faktor hormonal. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.
b.      Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
c.       Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
d.      Latar belakang psikososial ibu
e.       Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.
5.    Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa menopause dan cara menyikapi perubahan tersebut adalah :
Menopause adalah akhir dari periode haid. Haid bisa mendadak tidak datang lagi, bisa juga mulai menyurut secara bertahap dan berhenti sepenuhnya sesudah 1 sampai 2 tahun. Biasanya menopause terjadi pada usia antara 45 hingga 55 tahun. Menopause membawa kesulitan tersendiri, yaitu :
a.       Wanita yang sudah menopause lebih rentan terhadap problema kesehatan ketimbang yang masih muda. Kebanyakan masalahnya bukanlah dampak usia itu sendiri, artinya problem serupa bisa mengganggu siapa saja, tua atau muda.
b.      Tatkala dunia berubah dan anggota keluarga yang lebih muda mulai meninggalkan masyarakatnya untuk mencari nafkah dan membangun kehidupannya sendiri, problem menopause makin bertambah. Dulu, anak yang sudah dewasa diharapkan dapat menopang kehidupan orangtuanya yang telah menua, termasuk merawat atau setidaknya membantu mengurus orang tua seandainay mereka terkena penyakit. Tapi kini makan banyak anak muda yang berusaha mandiri, mencari penghidupan terpisah dengan orang tua, di lain desa, bahkan ke luar negeri, sehingga orang tua yang sudah menopause harus mengurus diri sendiri tanpa bisa mengharap banyak bantuan dari anak. Perubahan ini juga disertai dengan perubahan penilaian masyarakat modern terhadap usia tua. Bila dulu usia dianggap sejajar dengan kebijaksanaan, dan orang yang sudah tua dihormati lebih dari yang muda, kini sikap itu kian luntur dimakan waktu. Andaipun wanita menopause masih tinggal dengan anak-anaknya, ia sering dianggap sebagai beban dan penghambat saja.
Tanda-tanda menopause :
a.       Terjadi perubahan dalam haid. Mungkin tiba-tiba berhenti, atau justru sudah mengalami haid yang lebih sering untuk beberapa lama. Bisa pula tidak haid lagi selama beberapa bulan, lalu mulai mendapat haid lagi.
b.      Kadang tiba-tiba merasa sangat kepanasan tanpa sebab (misalnya sewaktu udara dingin), atau keringatan. Mungkin rasa panas akan menyebabkan terbangun di malam hari
c.       Akibat kekurangan hormon estrogen, aliran darah ke vagina berkurang, cairan vagina berkurang, sering keputihan, sel-sel vagina menjadi tipis dan mudah cidera. Akibat cairan vagina berkurang, umumnya wanita mengeluh sakit saat senggama sehingga tidak mau lagi melakukan hubungan sek.
d.      Perasaan gampang berubah, misalnya dari gembira mendadak sedih, atau marah
e.       Nafsu makan semakin berkurang, akibat menurunnya daya penciuman dan daya pengecap (makin tidak peka terhadap bau dan rasa makanan), atau baru mulai makan sudah merasa kenyang
f.       Mulai kesulitan mengingat banyak hal dan sulit berpikiran jernih
g.      Akibat kekurangan hormon estrogen pada wanita menopause, timbulah keluhan seperti mudah tersinggung, cepat marah, dan berasa tertekan (depresi).
h.      Kulit menjadi tua disebabkan oleh kerusakan kumulatif oleh sinar ultraviolet dan kekurangan estrogen. Kulit kehilangan elastisitasnya, kering dan berlipat-lipat. Kerusakan kulit akibat terpapar sinar matahari yang terjadi sepanjang hidup dapat menimbulkan keriput dan bintik-bintik.
i.        Osteoporosis yang disebut juga pengeroposan tulang, yaitu tulang tipis, rapuh dan keropos, serta mudah patah. Wanita yang telah keropos tulangnya mudah diamati dari sikap berdiri yang tidak bisa tegap. Pengeroposan tulang mengakibatkan sekat-sekat tulang belakang penyangga badan tidak lagi saling bertumpu dengan kuat.
Cara menyikapi perubahan-perubahan tersebut
Bila wanita mengalami gejala menopause yang tidak menyenangkan atau mengganggu, cobalah :
a.       Kenakan pakaian yang dengan mudah bisa dilepas bila merasa kepanasan atau keringatan
b.      Hindari makanan dan minuman yang panas atau pedas / berbumbu. Makanan dan minuman itu bisa memicu kepanasan
c.       Olahraga secara teratur, misalnya berjalan-jalan atau sekedar bermain dengan cucu atau berkebun
d.      Kurangi minum kopi dan teh, karena mengandung kafein yang bisa membuat wanita menopause merasa gelisah, tidak nyaman dan susah tidur
e.       Bila sulit menghentikan kebiasaan minum alkohol, usahakan sesedikit mungkin karena alkohol hanya akan meningkatkan pendarahan dan kepanasan
f.       Hentikan merokok atau mengunyah tembakau, karena bisa menyebabkan pendarahan yang tidak seperti biasanya, serta memperberat osteoporosis
Selain upaya diatas, jelaskan pada keluarga bahwa perasaan wanita menopause mungkin akan mudah berubah. Hal ini perlu dilakukan agar mereka tidak kaget, lebih menenggang perubahan perasaan yang mendadak, dan tidak terjadi percekcokan atau masalah lain yang tidak perlu terjadi. Kalau perlu, bicaralah dengan sesama perempuan yang juga sedang menopause tentang perasaan masing-masing.
Perempuan, berapa pun umurnya, akan lebih sehat jika ia aktif dan produktif, atau melakukan hal-hal yang berguna. Kalau menjalani menopause hanya dengan berpangku-tangan, maka akan merasa sering sakit-sakitan dan tidak berdaya, serta kehilangan semangat. Jadi sebaiknya, perempuan menopause bergabung dengan sebuah kelompok kegiatan, atau ikut serta dalam sebuah proyek kemasyarakatan.
 

Sabtu, 20 April 2013

MENGHITUNG JEJAK EKOLOGI PRIBADI

MENGHITUNG JEJAK EKOLOGI PRIBADI

Istilah jejak kaki atau footprint telah dikenal secara umum dalam pengelolaan sumber daya alam di dunia internasional sebagai metode perhitungan kuantitatif yang menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Saat ini telah dikenal tiga jenis footprint dalam kehidupan sehari-hari, yaitu : 1) ecological footprint, 2) carbon footprint dan 3) water footprint. Satuan dan sumber daya yang dianalisis secara spesifik oleh masing-masing jenis footprint tersebut berbeda-beda. Ecological footprint difokuskan untuk menghitung penggunaan lahan bioproduktif yang digunakan untuk menyokong populasi dunia dan dinyatakan dalam satuan hektar. Perhitungan carbon footprint dititikberatkan pada penghitungan penggunaan energi yang dinyatakan dalam volume emisi karbondioksida (CO2) menggunakan satuan ton. Water footprint adalah jenis footprint yang terakhir. Footprint ini menghitung penggunaan air untuk menyokong kehidupan manusia yang dinyatakan dalam satuan volume air (M3).
Konsep ecological footprint (EF), atau jejak kaki ekologis, pertama kali diperkenalkan oleh William Rees dan Martin Wackernagel pada tahun 1990-an. Konsep ini pada dasarnya dikembangkan sebagai usaha pencarian indikator untuk pembangunan berkelanjutan dan khususnya diharapkan dapat menjadi metode untuk mengukur secara kuantitatif mengenai hubungan perlakuan manusia terhadap bumi dengan daya dukung yang dimiliki oleh bumi itu sendiri (Wackernagel and Rees, 1996). Konsep ini menegaskan bahwa hampir semua tindakan dan perilaku hidup manusia, misalnya perilaku konsumsi dan transportasi, akan membawa dampak ekologis atau dampak bagi lingkungan (Hoekstra, 2007). Pendekatan EF dapat digunakan untuk mendidik masyarakat mengenai penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dan kemampuan daya dukung bumi untuk menyokong keberlanjutan hidup mereka. Pendekatan ini dapat digunakan sebagai indikator keberlanjutan. Pendekatan ini juga memberikan penjelasan mengenai dampak perilaku manusia terhadap lingkungan dan dapat menghubungkannya dengan daya dukung bumi.
Jenis analisis footprint yang kedua adalah Analisis carbon footprint (CF). Carbon footprint adalah indikator mengenai dampak aktivitas manusia terhadap iklim global yang dinyatakan dalam jumlah gas rumah kaca (GRK) yang diproduksi. Carbon footprint secara konseptual menggambarkan kontribusi individu atau negara terhadap pemanasan global. Carbon footprint dapat menunjukkan total emisi karbondioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya yang diemisikan pada seluruh proses untuk menghasilkan produk atau jasa (Hoekstra, 2008).
Jenis analisis footprint yang terakhir adalah analisis water foootprint (WF). Water footprint dikembangkan oleh Hoekstra pada tahun 2002. Water footprint dapat merepresentasikan jumlah volume air tawar yang dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan suatu populasi, seperti yang diungkapkan oleh Madrid et al “The water footprint represents the freshwater volume required to sustain a population” (Madrid et al., not dated). Hoekstra dan Chapagain (2004) dalam laporan hasil penelitiannya mendefinisikan water footprint individu, bisnis atau negara adalah total volume air tawar yang digunakan untuk memproduksi makanan dan jasa yang dikonsumsi oleh individu, bisnis atau negara. Nilai water footprint umumnya dinyatakan dalam satuan volume air yang digunakan setiap tahunnya. Saat ini, water footprint telah berkembang menjadi alat analisis yang digunakan untuk mengarahkan perumusan kebijakan kearah isu-isu mengenai keamanan air dan penggunaan air yang berkelanjutan di negara maju (Hoekstra, 2008).

MENGHITUNG JEJAK KARBON INDIVIDU,
Menurut  IESR (Institute for Essential Services Reform) dalam http://www.iesr.or.id/2010/04/earth-day-series-press-release-ayo-kita-diet-karbon-untuk-hidup-dan-bumi-yang-lebih-baik/,  Dibagi menjadi  3 bagian, yaitu listrik, sampah dan transportasi.
LISTRIK
Penerangan
Jenis dan lampu yang biasa digunakan (10,15,20 Watt atau lebih)?
1. Neon-CFL 20 watt x 24 jam , di ruang keluarga
2. Neon-CFL 10 watt x 12 jam, di teras
3. Neon-CFL 15 watt x 6 jam, di kamar mandi
4. Neon-CFL 20 watt x 24 jam, di kamar tidur 1
5. Neon-CFL 15 watt x 18 jam, di kamar tidur 2
6. Neon-CFL 20 watt x 24 jam, di ruang tamu
7. Neon-CFL 10 watt x 10 jam, di kamar kecil (WC)
8. Neon-CFL 15 watt x 24 jam, di dapur
Total Emisi: 445.06 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 386.75  
Peralatan Dapur
1. Pemakaian  kulkas < 300 lt = 24 jam/hari
2. Rice Cooker  = 22 jam / hari
Total Emisi Peralatan Dapur: 2595,56 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 2255.50  
Peralatan Rumah Tangga
 Berapa jam penggunaan alat-alat dalam rumah tangga di bawah ini dalam sehari :
Catatan : Jika pemakaian tidak setiap hari maka dapat diisi dengan dengan total jam pemakaian dalam semiggu kemudian dibagi 7. Misalnya pemakaiannya adalah 5 jam dalam seminggu maka diisi 0,7.
1. Mesin Cuci  = 0 jam
2. Mesin Pengering = 0 jam
3. Setrika = 0,7 jam
4. Kipas Angin = 4 jam
5. AC (1 PK) = 12 jam
6. Vacuum Cleaner = 0 jam
Total Emisi Peralatan Rumah Tangga: 1683,00 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 1.462.50  

Peralatan Pribadi
Berapa jam penggunaan peralatan – peralatan pribadi di bawah ini dalam sehari :
Catatan : Jika pemakaian tidak setiap hari maka dapat diisi dengan dengan total jam pemakaian dalam semiggu kemudian dibagi 7. Misalnya pemakaiannya adalah 5 jam dalam seminggu maka diisi 0,7.
1. Hair Dryer = 0 jam
2. Electronic Razer / Pisau Cukur Elektronik = 0 jam
Total Emisi Peralatan Pribadi: 0 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 0  
Elektronik Lainnya
 Berapa jam penggunaan alat – alat elektronik di bawah ini dalam sehari :
Catatan : Jika pemakaian tidak setiap hari maka dapat diisi dengan dengan total jam pemakaian dalam semiggu kemudian dibagi 7. Misalnya pemakaiannya adalah 5 jam dalam seminggu maka diisi 0,7.
1. DVD Player = 2 jam
2. Playstation PS2 = 1 jam
3. Xbox 360 = 0 jam
4. Tape Radio = 0 jam
5. TV (CRT 21") = 0 jam
6. TV (LCD 32") = 10 jam
Total Emisi Elektronik Lainnya: 528.84 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 459.55  
Informasi dan Komunikasi
 Berapa jam penggunaan alat ? alat informasi dan komunikasi di bawah ini dalam sehari :
Catatan : Jika pemakaian tidak setiap hari maka dapat diisi dengan dengan total jam pemakaian dalam semiggu kemudian dibagi 7. Misalnya pemakaiannya adalah 5 jam dalam seminggu maka diisi 0,7.
1. Charger Handphone = 2 jam
2. PC Desktop+Monitor = 0 jam
3. Laptop = 2 jam
Total Emisi Informasi dan Komunikasi: 112.20 gram CO2-ek
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp. 97.50

SAMPAH
Berapa Sampah Organik Yang Dihasilkan? 50 gram
Berapa lembar kertas yang digunakan? 2 lembar
Berapa botol Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang dikonsumsi? 1 botol
Total Emisi Sampah:  1313.84 gram CO2-ek
TRANSPORTASI

Transportasi Jarak Dekat

Jenis Kendaraan = pribadi, mobil bensin 1500cc, penumpang 4 orang, biaya BBM Rp.100.000,00 per minggu
Total Emisi Transportasi Darat : 0,85 gram CO2-ek
Transportasi Jarak Jauh
Jenis penerbangan : Domestik
Tipe pesawat : Boeing 737-600, transit : 0 kali
Total emisi pesawat : 21,445.37 gram CO2-ek
HASIL PENGHITUNGAN :

Bahwa jejak karbon saya adalah :
Total Emisi Harian : 6,737.75 gram CO
2-ek
Total Emisi Tahunan: 2,459,278.75 gram CO
2-ek
Total Biaya Listrik Harian: Rp. 4,694.30
Total Biaya Listrik Tahunan: Rp. 1,713,419.50

CARA MENGHITUNG JEJAK EKOLOGI, MENURUT CENTER OF SUSTAINABLE ECONOMY , dalam (http://myfootprint.org/en/visitor_information/)

Diawali dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Di negara mana Anda tinggal ? Indonesia
2. sistem pengukuran mana yang Anda pilih ? Metric / U.S
3. Berapa jumlah orang yang tinggal di rumah Anda ? 4 orang
4. Berapa penghasilan Anda pertahun ? kurang dari $ 29,000

 

Ecological Footprint , terdiri dari :

A. CARBON FOOTPRINT

Now, we will estimate your carbon footprint. Your carbon footprint
is the area needed to absorb carbon emissions generated by your
home energy use and transportation.

1. What best describes the climate zone you live in? If you are not sure, the dominant climate for your country is already selected.

Arctic or high cold mountain regions (like northern Siberia or the high Himalayas)
High latitudes with cold winters and cool summers (like Moscow or Stockholm)
High desert (like Kabul or Mexico City)
Temperate or Mediterranean (like New York, Rome, Buenos Aires or Hong Kong)
Warm to hot lowland desert (like Phoenix or Dubai)
Tropical and wet, including rainforests (like Rio de Janeiro or Manila)
Tropical, but relatively dry, including savannahs (like Bhopal, Brasilia or Nairobi)
Hide window More on energy use and climate zoneshttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif
Colder climates require more energy for heat and somewhat more for lighting and cooking. Hot and humid climates, on the other hand, require more energy for cooling and refrigeration. It may not be immediately obvious which climate zones require more energy. Statistically, however, there is a strong correlation: the coldest areas require the most energy. The choices above are ordered from most to least energy intensive.

2. What is the size of your home?

50 - 100 square meters or less (apartment or studio)
100 - 150 square meters (small home, approximately 2-3 bedrooms)
150 - 200 square meters (average home, approximately 3 bedrooms)
200 - 250 square meters (large home, approximately 4 bedrooms)
250 square meters or larger (very large home)

3. What energy sources do you use in your home? Please check all that apply.

Electricity
Natural gas, propane, or liquefied petroleum gas
Heating oil
Wood or biomass

4. If your house uses electricity, what percentage is generated from renewable hydropower, wind, biomass, or solar sources? The initial value is the country or regional average.

%

5. Please enter the number of kilometers you travel per year for each mode of transportation:

Automobiles, including personal vehicles, taxis, and carpools
Bus, including metro and long distance service
Rail, including subways, inner-city light rail, cross country trains
Air travel

6. What best describes the vehicle you most often drive or ride in?

A hybrid
A small or compact car (2 door)
A mid size car (4 door sedan)
A large car (including vans and minivans)
A pickup truck or sport Utility Vehicle (SUV)

7. Do you usually share rides with at least one other person?

Yes
No

8. Below is a list of energy saving features and energy saving habits. Please check all that apply

Energy saving features

Compact fluorescent bulbs
Energy efficient appliances
Extra insulation
Insulating blinds
Solar panels
Storm doors and windows
Water saving fixtures

Energy saving habits

Turn off lights when leaving rooms
Use power strips to turn off stand-by lights
Turn off computers and monitors when not in use
Dry clothes outside whenever possible
Keep thermostat relatively low in winter
Unplug small appliances when not in use
Minimal use of power equipment when landscaping
Hide window

Small lifestyle changes make a big difference. Find out more.http://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Many of us tend to ignore the small things we can do to conserve energy and reduce carbon emissions because we don’t feel like we’re making a big difference. But small things add up. Energy efficient appliances use 2 to 10 times less energy for the same level of functionality. Line drying clothes saves 3 to 4 kilowatt hours per load – about 5 pounds of carbon dioxide. Compact fluorescent bulbs use four times less energy and last eight times longer than incandescent bulbs.

9. What best describes where your home is located?

Inner city
Older suburb
Newer suburb
Rural

More about sprawl and climate changehttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Carbon emissions are generally highest for households living in newer suburbs. This is because spread-out suburbs require far more energy per person for public infrastructure, housing, and both personal and commercial transportation. Compact urban living is much less energy intensive. In rural areas, greater self reliance on local food, energy, and water resources and fewer short trips on congested roadways lead to lower energy requirements relative to sprawling suburbs.

10. Have you purchased offsets for carbon emissions associated with your home energy use and transportation?

Yes
No
Quiz results
in global hectares
My Carbon Footprint:    
7.97
gha
Country Average:
2.60
gha



B. FOOD FOOTPRINT

Next, we estimate your food footprint. Your food footprint includes the area needed to grow crops, fish, and graze animals and absorb carbon emissions from food processing and transport.

11. What best describes your diet?

Vegan – Plant based foods only
Vegetarian – Primarily plant based foods, but some dairy
Omnivore – An assortment of meat, seafood, vegetables, dairy, and grains
Carnivore – Meat, seafood, and dairy several times a week
Top of the food chain – Meat, seafood, or dairy at almost every meal

My diet and my footprinthttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

A plant-based diet is significantly less land and energy intensive than a diet with a high proportion of meat, seafood, and dairy. A recent study found that a low-fat vegetarian diet needs 0.18 hectares per person per year while a high-fat diet with lots of meat needs 0.85 hectares because animals need so much more room. And because meat production drives deforestation and requires high inputs of energy for processing and transportation, it also comes with a high carbon footprint price tag. Globally, it has been estimated that up to 18% of all greenhouse gas emissions are associated with animal product consumption.
 12. Where do you obtain most of your food?
Farmers markets, gardens, cooperatives, and other local and fresh sources
Natural foods markets
Supermarkets for some items, natural food stores for others
Supermarkets, convenience stores, and prepared foods from restaurants
Restaurants, fast foods, and take out

Food miles, packaging, and where I shophttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Two important variables affecting your food footprint are food miles (or miles to market) and the amount of processing and packaging. If your food comes from far away – such as out of season produce imported from across the world – it requires lots of energy for transportation and refrigeration. If it is highly processed and comes in copious paper packaging, it puts a strain on forests. Buying fresh local foods from farmers markets and other locally owned sources or natural foods markets reduces these impacts.

13. How often do you select foods that are certified organic or sustainably produced?

Most of the time
Sometimes
Almost never

14. Which choice best describes how much you normally eat?

One large meal and a couple of light snacks per day
Two large meals and two or three light or medium sized snacks per day
Three large meals and several hefty sized snacks in between

15. Do you have a garden or share one to grow your own vegetables and herbs?

Yes
No
Quiz results
in global hectares
My Food Footprint:
2.67
gha
Country Average:
3.76
gha


 

C. HOUSING FOOTPRINT

The next step is your housing footprint. Your housing footprint
includes the area occupied by your home and the area needed to supply resources used in construction and household maintenance.

16. Which best describes your home?
An estate, ranch or farm
A free standing single family house
A house or building with 4 or fewer units
A small apartment building (5 - 20 units)
A large apartment building (20+ units)
What is the approximate area of land occupied by your home, structures, and yard? If you live on an estate, farm or ranch, please don't count grazing lands, croplands, or wildlands.
square meters, or
hectares

17. Was your home or any portion of it built with recycled materials, wood certified as sustainably harvested, or any other green design features?

Yes
No
Not sure

More on green buildingshttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Green buildings significantly reduce demands for energy, water, and materials through ecologically sensitive siting, design, construction, operation, maintenance, and removal practices – the complete building life cycle. Passive solar heating, water efficient fixtures, recycled materials and other green design features can generate up to 30% in energy savings, reduce carbon emissions by 35%, reduce water use by 30 to 50% and save 50 to 90% in waste disposal costs.

18. Approximately what share of your home furnishings are second hand or made of either recycled or sustainably produced materials?

Almost none
A few
A fair amount
Almost all

19. Which water saving features and habits do you have in your home? Please check all that apply.

Water saving features

Low flow toilets
Low flow shower heads and faucets
Instant water heaters on sinks
Rainwater catchment system
Grey water recycling system
Drought tolerant landscaping

Water saving habits

Compost rather than use garbage disposal
Minimize shower time and toilet flushing
Run clothes and dish washers only when full
Wash cars rarely
Look for and fix leaks regularly
Avoid hosing down decks, walkways, driveways

The footprint of water consumptionhttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Fresh water consumed in households requires energy for both delivery and treatment. Household water use also takes water from other beneficial uses such as irrigation or in-stream flow for fish and wildlife. All of these impacts increase a household’s ecological footprint, so saving water is a key strategy for footprint reduction. It has been estimated that by installing water saving features and adopting water conservation habits such as those listed here, households can easily reduce their water footprint by 60% or more.

20. How often do you select cleaning products that are biodegradable or non-toxic?

Almost never
Sometimes
Most of the time
Quiz results
in global hectares
My Housing Footprint:
0.79
gha
Country Average:
0.97
gha

Why green cleaning products matterhttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Products used to clean floors, carpets, bathrooms, and other building elements often contain harmful chemicals that can have serious human health effects and contaminate water supplies, fish, and wildlife if they are poured down drains, circulated through ventilation systems, or disposed of outdoors. Environmental damage can also occur during the development, manufacture, and transport of these products. Fortunately, biodegradable and non-toxic alternatives can significantly reduce or eliminate these impacts altogether while providing the same level of cleanliness.

 

 

 

D. GOODS AND SERVICES FOOTPRINT

Lastly, we estimate your goods and services footprint, which includes the area needed to supply consumer items you purchase and absorb carbon emissions from their manufacturing, transport, and disposal.

21. What best describes your spending and saving habits?

I tend to spend all of my income and then some.
I generally live within my means.
I am a frugal spender, and regularly save money for the future. 

22. How often do you buy new things to replace old ones?

I tend to use things until I genuinely need to replace them.
Some items I use for years, others I replace before I need to.
I frequently replace belongings even if they are in good condition.

Planned obsolescence and our economic footprinthttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

The faster we buy new items, the faster we deplete resources and the more likely it is that we are exceeding the Earth’s regenerative capacity. Unfortunately, today’s economy is designed to convince us to buy often and replace items that are in perfectly good working order. Planned obsolescence – the deliberate manufacturing of products to wear out quickly – adds to the problem. To counter this, we can try to repair things as much as possible and only buy products that are designed to last.

23. How many standard size garbage bins does your household fill each week?

Less than one
One or two
More than two

24. What proportion of the following wastes do you recycle?


None

A fair amount

Almost all

Paper

Aluminum

Glass

Plastic

Electronics


Towards a zero-waste societyhttp://myfootprint.org/_img/arrow-bottom.gif

Recycling our wastes has enormous environmental and economic benefits in the form of reduced landfill space, fewer demands for raw materials, less energy consumption, less air and water pollution, lower waste-disposal bills, and cheaper goods. Recycling one metric ton of paper saves 17 trees. It takes 40 - 95% less energy to produce goods with recycled aluminum, glass, plastic, or paper than it does to manufacture them with raw materials. Communities throughout the world are striving for zero-waste economies where the outputs from each resource use are turned into inputs for another use. Zero waste does not aim to simply manage waste, but eliminate its creation in the first place.

25. When you buy clothing or paper products, how often do you select items labeled as recycled, natural, organic, or made of alternative fibers such as hemp or Tencel?

Almost never
Sometimes
Almost always

Quiz results
in global hectares
My Goods and Services Footprint:
2.06
gha
Country Average:
1.74
gha


 

 


HASIL PERHITUNGAN 

Congratulations, you are living an ecologically conscientious lifestyle.
If everyone lived like you do, we would need only 0.85 Earths.

http://myfootprint.org/_files/img/earths/09.png


Average Per Capita Footprint By Consumption Category

Average Per Capita Footprint By Biome

(in global hectares)

Footprint

Country Average

Carbon Footprint

7.90

2.60

Food Footprint

2.67

3.76

Housing Footprint

0.79

0.97

Goods and Services Footprint

2.06

1.74

My total footprint

13.42

9.07